Tanah Karo: Gunung Sinabung, yang baru saja meletus dini hari kemarin (29/8), kembali menyemburkan asap setinggi 2000 meter ke udara, sekitar pukul 06.30 WIB tadi pagi (30/8). Warga mendengar gemuruh dan sedikit getaran hanya beberapa saat setelah melakukan shalat Subuh.
Meski berjarak cukup jauh, warga di tempat pengungsian dihimbau untuk menggunakan masker, karena letusan kali ini menghasilkan asap dan material vulkanik lainnya.
Menurut laporan koresponden berdikari online di tempat pengunsian, warga yang baru saja terbangun sempat dikagetkan oleh letusan kedua ini. Sebagian besar keluar dari tenda-tenda pengungsian untuk menyaksikan secara langsung apa yang sedang terjadi.
Menurut sejumlah sumber, kepulan asap tebal dan abu vulkanik mulai menutupi hutan dan ladang milik warga di lereng gunung Sinabung.
Tingginya semburan dan asap tebal yang ditimbulkan dikhawatirkan akan mengganggu jalur penerbangan. “Ini akan tergantung pada arah mana angin akan bertiup. Jika angina bertiup ke arah utara, maka itu akan mengganggu penerbangan internasional, dan jika angina bertiup ke arah timur, maka itu akan mengganggu penerbangan domestik,” demikian dikatakan Bambang Ervan, jubir Kementerian Perhubungan, seperti dikutip kantor berita Xinhua.
Jumlah Pengungsi Meningkat
Sementara itu, paska letusan gunung Sinabung yang kedua tadi pagi, jumlah warga Tanah Karo yang mengungsi diperkirakan bertambah banyak. Pasalnya, beberapa warga yang sebelumnya bertahan untuk menjaga rumah mereka, kini memilih menyingkir ke tempat yang lebih aman.
Sebagian besar pengungsi ini mengalir ke daerah-daerah sekitar yang lebih aman, seperti Kabanjahe, Brastagi, Tigabinanga dan Singamanik.
Sejauh ini, berdasarkan pantauan koresponden kami, keterbatasan jumlah posko yang disediakan membuat sejumlah warga mencari tempat lain untuk berlindung. Namun, karena berada di luar posko resmi yang disediakan pemerintah, para pengungsi ini kurang terjangkau bantuan.
Selain itu, sebagian pengungsi mengeluh sesak napas akibat pengaruh asap tebal dan bau belerang paska letusan gunung berapi. (rh)
Selengkapnya...
Gunung Sinabung Kembali Semburkan Asap
Lima Aktivis Mogok Makan di Penjara
Sabtu, 22 Mei 2010 | 16.14 WIB | Kabar Rakyat
BUOL, Berdikari Online: Lima aktivis Aliansi Rakyat Buol Bersatu (AKBAR) yang ditahan di Polres Buol, Sabtu (22/5), melakukan aksi mogok makan. Aksi ini dilakukan sebagai protes atas perlakuan diskriminatif yang mereka dapatkan dan kekecewaan atas sikap kepolisian yang menolak penangguhan penahanan.
Kelima aktivis yang melakukan mogok makan, antara lain Muh. Zukri (LSM Kokait), Rusli K. Oli'I (PRD), Jufri. S (PPMIB-Palu), Moh. Taufik Intam (LMND), Arlan Rahman (LMND). Aksi mogok makan dimulai sejak kemarin, Jumat (21/5) hingga batas waktu yang tidak ditentukan.
Menurut Rusli K.Oli'I, ketua PRD Buol, Polisi tidak berhak melakukan penahanan terhadap aktivis gerakan rakyat yang sedang melawan rejim korup seperti Amran Batalipu. "Melakukan perlawanan terhadap rejim korup adalah wajib hukumnya. Melindungi koruptur justru perbuatan tercela," tegasnya.
Rusli menjelaskan, pihak kepolisian terlihat tidak netral saat menangani aksi massa gerakan rakyat dari AKBAR, karena polisi hanya menangkapi mahasiswa dan rakyat, namun membiarkan preman bersenjata menyerang warga.
Rusli juga menyesalkan sikap polisi menolak penangguhan penahanan. Sebab, menurut dia, sejak 18 Mei 2010, sedikitnya 16 anggota DPRD Buol sudah siap menjadi penjamin atas penangguhan penahanan aktivis AKBAR. Polisi juga tidak memberikan jawaban atas permintaan penangguhan penahanan tersebut. (Rh)
Selengkapnya...
Search
Pengunjung
Kategori
- Berdikari (14)
- Internasional (4)
- Kabar Juang (3)
- Kabar Rakyat (4)
- Organisasi (1)
- Politik (8)
- sastra (1)
- Soekarnoisme (6)
- Statement (5)
- Tokoh (4)
Jaringan
Mengenai Saya
- Randy Syahrizal
- mempunyai minat menulis sejak kuliah di Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Sastra USU tahun 2003. Pernah menulis di beberapa media lokal (Sumatera Utara) dan Media Online Nasional. Blog pribadi saya : http://ceritadarimedan.blogspot.com